MENENTANG TAKDIR PART 8 | CERBUNG

*C E R B U N G*

*MENENTANG_TAKDIR*

*PART_8*

Aku berlari menaiki anak tangga menuju kamar. Tak kuhiraukan pertanyaan abi dan umi yang keheranan melihatku kembali ke rumah. Biarlah Amran yang menjelaskan pada mereka.

Kurebahkan diri di ranjang tanpa mengganti pakaian terlebih dahulu. Ingin terlelap walau sejenak. Melupakan apa yang sudah terjadi hari ini.

Amran, apa yang harus kuperbuat padamu?

                                     ***

Aku terbangun saat jam menunjukkan pukul dua siang.

‘Astaghfirullaah, aku belum shalat Zuhur.’

Segera aku melompat turun dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri sejenak sebelum berwudhu’ dan menunaikan shalat zuhur yang sudah begitu terlambat.

‘Kenapa Amran tidak membangunkanku? Tega sekali dia membiarkanku tidur hingga shalatku terlewat.’ Umpatku dalam hati seraya melipat mukenaku. ‘Kemana dia?’

Semua barang bawaanku tadi tergeletak begitu saja di sudut kamar. Tapi Amran tidak kelihatan.

Aku menyeret langkah keluar kamar setelah mengenakan hijabku. Memeriksa balkon sejenak, siapa tahu Amran tengah bersantai di sana. Tapi tak kutemukan.

Lalu setengah berlari aku menuruni anak tangga. Berharap menemukan sosoknya di ruang tengah, tapi tetap nihil. Kuperiksa juga teras belakang, tak ada siapapun di sana. Abi dan umi juga tidak kelihatan. Sepi sekali rumah ini. Di mana mereka semua?

 Aku pun melangkah ke ruang tamu, dan serta merta langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok laki-laki yang tengah asyik membolak-balik sebuah buku tebal di ruangan itu. Dadaku tiba-tiba kembali bergemuruh. Tapi aku berusaha mengabaikannya dan melanjutkan langkahku menuju teras depan.

“Amran tidak di rumah,” lelaki itu membuka suara tanpa melihat dengan siapa dia sedang bicara. “Aku tidak tahu dia kemana, tapi tadi setelah shalat zuhur dia pergi, hanya pamit mau ke luar sebentar katanya,”

Aku tertegun di ambang pintu.

“Kamu ngapain di sini?” Selidikku sambil membalikkan badan hingga aku dapat menemukan lelaki itu masih tak beralih dari buku di tangannya.

“Ada Madya dan umi di dapur. Jadi jangan takut kalau kamu berpikir hanya kita berdua di rumah ini.” Ujarnya seolah tahu apa maksudku.

“Ooh,” hanya itu yang kuucapkan sambil berlalu meninggalkannya. Aku tak ingin berlama-lama di sini. Tak ingin mengungkit kembali sebuah rasa yang hampir terkubur bersama kehadiran Amran di sisiku.

“Madya? Kapan datang?” Sapaku ketika kulihat ia tengah asyik membuat kue bersama umi.

“Eh, Kak Jihan? Udah bangun?” Wajah Madya tampak berseri. Ia mengambil tanganku dan menciumnya dengan hormat.

“Udah, Kakak tadi ketiduran. Mana kebablasan lagi nggak ada yang bangunin shalat zuhur.” Sahutku sambil merengut.

“Kakak kenapa nggak jadi ke Jakarta?”

Aku terdiam sebelum akhirnya menggeleng sambil menyeduh teh hangat. “Kakak tunda dulu sementara waktu,”

“Haaaa...pasti nggak mau jauh-jauh dari Bang Amran yaaa?” Ejeknya.

“Apa sih kamu?”

“Madya, jangan goda kakakmu terus! Ini lanjutin kerjaan kamu, pamali kalau anak perempuan kerjaannya nggak beres,” tegur umi yang sejak tadi hanya tersenyum melihat kedua putrinya.

“O iya, maaf umi. Aku sampai lupa!” Sahutnya sambil menyeringai.

“Lagi ngidam apa nih? Tumben bikin kue sampai datang ke rumah?”

“Lagi ngidam brownies kak, tapi bikinnya di sini,” Madya tertawa geli.

“Ishhh, ada-ada saja,” aku mendaratkan tubuhku di kursi yang terletak di dapur. Menikmati secangkir teh hangat agar tubuhku terasa sedikit rileks.

“Mi, Bang Amran kemana sih?” Tanyaku.

“Umi nggak tahu, tadi habis shalat zuhur pamit mau keluar sebentar katanya ada perlu.” Jawaban umi sama dengan yang di katakan Hakim tadi.

“Ooh,” sahutku singkat. Kembali meneguk teh hangat yang tinggal separuh.

“Kalian kenapa? Ada masalah? Baru menikah kenapa udah kayak orang marahan begitu?” Tanya umi.

“Nggak ada apa-apa, Mi.”

“Lalu? Kenapa kamu nggak jadi ke Jakarta? Bukannya Amran sudah memberi izin untuk kamu kuliah lagi?” Selidik umi.

“Aku tunda sementara dulu, Mi. Nanti nyari waktu yang tepat untuk kembali ke sana. Sementara aku konsultasi materi via online aja.”

“Kamu nggak ada masalah apa-apa kan sama Amran?” Sepertinya umi masih tak percaya dengan jawaban yang kuberikan.

“Nggak ada kok, Mi. Kami baik-baik saja.” Pungkasku.

“Alhamdulillaah, syukurlah kalau begitu.”

“Umi ada-ada aja deh,” celetuk Madya, “masa iya pengantin baru punya masalah, lagian kak Jihan dan bang Amran itu saling mencintai, ya kan Kak?”

“Sok tahu kamu!” Cibirku.

Aku meneguk sisa tehku, mencuci gelasnya lalu melangkah meninggalkan dapur.

“Jihan, kamu belum makan siang kan? Sana makan dulu! Nanti lemes lho!” Suara umi menghentikan langkahku.

“Belum lapar Mi, nanti saja,” sahutku sambil berlalu.

“Pengantin baru nggak boleh lemes yaaaaa,” teriak Madya sambil cekikikan.

Apaan sih anak satu itu? Ngeledek terus bawaannya, mentang-mentang... ‘BRUK!’

“Aduuh!” Erangku sambil memegang lengan kanan. Karena jalannya sambil menggerutu  aku tak sadar sudah menabrak kursi di ruang makan yang terbuat dari kayu jati khas ukiran jepara itu. Aku meringis kesakitan sambil mengusap-usap lengan yang terasa ngilu. Saking ngilunya air mataku sampai menetes.

“Jihan, kamu kenapa?” Tiba-tiba Hakim muncul di hadapanku.

Aku mengangkat kepalaku hingga menemukan raut khawatir terpeta di wajahnya.

“Nggak apa-apa,” aku menggeleng dan bergegas menghapus air mataku. Lalu aku bangkit, meninggalkannya menuju lantai dua kamarku sambil menahan rasa sakit yang masih terasa di lengan.

“Amran sangat menyayangimu, Jihan. Jangan sia-siakan lelaki sebaik dia,” ucap Hakim.

Aku tertegun di tengah anak tangga. Tapi tak berusaha melihat kepadanya.

“Amran jodohmu, dia jauh lebih baik dari lelaki mana pun termasuk aku. Amran lebih pantas bersamamu di banding aku. Percayalah Jihan, cobalah menerimanya! Berbahagialah bersamanya!”

Tak kuhiraukan kata-kata Hakim. Kembali meneruskan langkah menyusuri anak tangga. Masuk ke dalam kamar dan langsung membuka gamisku untuk melihat bekas benturan tadi. Benar saja, lenganku terlihat membiru. Pantas rasanya ngilu banget. Kuraih minyak zaitun yang terletak di meja rias dan mengolesnya sambil memijat pelan memar yang membiru itu. Rasanya lumayan membuat air mataku kembali menetes. Aku memang termasuk perempuan cengeng dalam hal seperti ini.

Aku duduk di tepi ranjang, sambil terus memijat pelan lenganku agar memarnya sdikit berkurang. Terngiang kata-kata Hakim tadi. Lalu teringat kembali akan Amran. Kemana lelaki itu belum juga pulang.

Kuraih ponselku, berharap ada sebuah pesan darinya. Tapi nihil. Tak ada pesan atau pun panggilan tak terjawab.

‘Cekrek!’

Pintu kamar terbuka dan wajah Amran muncul. Aku buru-buru memasang gamisku agar Amran tak melihat lenagnku, tapi tak berhasil. Karena tangan kananku terasa sakit untuk diangkat. Ada apa ini? Bukankah tadi baik-baik saja? Hanya memar dan ngilu saja. Kenapa sekarang sakit sekali?

Arman tak bersuara. Ia seolah acuh. Mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi tanpa aku sempat bertanya dia dari mana.

            Sementara aku masih berusaha memasang gamisku, tapi tak berhasil. Rasanya sakit sekali hingga akhirnya aku menyerah dengan hanya menggunakan baju tanpa lengan itu. Tak peduli apakah Arman akan melihatnya atau tidak.

 Tak sampai sepuluh menit Amran pun keluar hanya dengan balutan handuk yang menutupi pinggang sampai lututnya. Aku memalingkan pandanganku dari tubuhnya. Amran tak  juga bersuara. Ia sibuk memakai pakaiannya, seolah tak melihatku di sana.

“Abang dari mana?” Akhirnya aku mencoba memecah keheningan.

“Dari kampus, tadi ada yang harus abang selesaikan sedikit,” sahutnya datar.

“Kenapa tidak memberitahuku?”

“Bagaimana caranya bicara dengan orang yang sedang tidur?” Ia balik bertanya.

Aku tertegun mendengar jawabannya. “Kenapa tidak membangunkanku?”

Kali ini ia tak menjawab.

“Abang marah padaku?”

“Tidak ada alasan untuk marah padamu, Jihan.”

“Lalu? Kenapa bersikap dingin seperti ini?”

“Agar kamu tidak semakin terluka,” sahutnya enteng.

“Apa maksud abang?”

“Agar kamu tidak merasa terpaksa hidup dengan abang, dan bisa melakukan apa pun yang kamu inginkan tanpa harus abang batasi. Abang tidak ingin, cinta yang abang miliki untukmu membuatmu merasa tidak nyaman,”

“Tapi aku lebih merasa tidak nyaman jika abang bersikap seperti ini,”

“Sampai detik ini abang belum berhasil membuatmu jatuh cinta pada abang. Dan itu membuat abang sedikit lelah, dan abang menyerah. Abang tak ingin memaksamu lagi untuk mencintai abang.” Pungkasnya. Kemudian ia pun berlalu hendak meninggalkanku.

“Kalau begitu ceraikan aku!” Ucapku sambil berlinang air mata.

Amran menghentikan langkahnya sebelum tangannya sempat menggapai handle pintu, lalu menoleh padaku.

“Jangan ucapkan lagi kata-kata itu, Jihan! Allah sangat membencinya!” Raut wajahnya terlihat marah.

“Kalau begitu berhentilah bersikap dingin padaku! Kembalikan suamiku yang tadi pagi masih mengatakan kalau dia mencintai dan menyayangiku. Dan katakan padanya...” aku merasa tercekat, “katakan padanya kalau aku...kalau aku juga sedang jatuh cinta padanya.”

Amran menatap nanar padaku. Mata teduhnya terlihat berkaca-kaca. Ia melangkah perlahan mendekatiku. “Jihan...,” lirih suaranya terdengar. “Kamu bilang apa? Kamu...kamu sedang jatuh cinta? Benarkah? Benarkah itu?”

Aku tak menjawab. Hanya mengangguk pelan dalam deraian air mata.

“Bagaimana bisa?” Tanyanya tak percaya.

“Aku tidak tahu, hanya saja sejak aku terbangun dari tidurku dan tak melihatmu di sampingku, aku merasa begitu kehilangan. Ada rindu yang menghunjam saat menunggumu pulang,” jelasku dengan suara lirih.

Ada setetas air mata yang mengalir di sudut netra milik Amran. Lalu ia menarikku ke dalam pelukannya. Membelai rambutku dan mencium ubun-ubunku berkali-kali. “Terima kasih Jihan, terima kasih istriku.”

“Aduh!” Aku mengerang saat tangan Amran tak sengaja menyentuh lengan kananku.

Amran terperanjat,langsung melepas pelukannya dan memeriksa lengan kananku.

“Ini kenapa Jihan? Kenapa bisa memar seperti ini?” Tanyanya khawatir.

“Tadi aku jalan nabrak kursi makan, jadinya begini. Sakit buat digerakin.”

“Makanya kalau jalan itu hati-hati, jangan sambil ngedumel! Sini abang urut, biar enakan,”

“Nggak mau ah, sakiiiiit,”

“Eeh, jangan bandel! Itu karena darahnya membeku, kalau diurut nanti darah bekunya pecah dan nggak sakit lagi,”

Dengan ragu kuulurkan tangan kananku padanya. Dan ia mulai memijatnya perlahan. Aku hanya bisa meringis menahan sakit.

“Nanti malam kita honeymoon yuk!” Ajaknya disela aktivitas mengurut lenganku.

“Kemana?”

“Ke hotel,” bisiknya pelan.

“Honeymoon apaan? Abang suka PHP, males ah! Natar cuma di anggurin doang kayak kemarin-kemarin.” Ejekku.

“Kali ini enggak deh, abang janji. Abang mau bayar hutang yang sudah tertunda hampir dua minggu sejak kita menikah,”

“Nggak mau ah, lenganku masih sakit, lain kali aja!”

“Nggak bisa, harus malam ini. Abang nggak mau menunda lagi. Pegel tau ditunda terus,”

“Salah siapa?”

“Salah kita berdua,” sahutnya asal sambil tertawa kecil.

“Tapi...”

“Ssst, dilarang membantah keinginnan suami. Dosa besar. Dilaknat malaikat sampai pagi.” Potongnya.

“Iiiih, ngancem ya?”

“Dikiit,” Arman tergelak. Matanya tak berhenti menatapku.

“Apa masih berniat mau kuliah lagi dan meninggalkan abang?”

Aku menggeleng pasti. “Tidak, aku mau tetap di sini. Bersama suamiku,”

Amran tersenyum begitu bahagia. Tangannya memegang pipiku, mengusapnya lembut. Membuatku sedikit terbuai dalam hangat telapak tangan miliknya.

Lalu kami terdiam untuk beberapa saat. Hanya mata yang saling bicara. Mata yang saling menatap dalam mengungkapkan perasaan masing-masing. Hingga rasa sakit di lengan tak lagi kurasakan, ketika deru napas kami bertemu dalam sebuah rasa cinta yang baru saja terjalin. Rasa cinta yang baru saja kurasakan saat aku mulai memahami akan arti dari sebuah takdir yang telah Allah tetapkan untukku. Sebuah takdir yang awalnya terasa pahit, tapi begitu indah saat aku mencoba untuk tidak menentangnya.

‘Ana uhibbuka Amran.’ Dan aku tenggelam, dalam pelukan kasih sayangnya.

 *B E R S A M B U N G*

Komentar