MENENTANG TAKDIR PART 7 | CERBUNG

*C E R B U N G*

*MENENTANG_TAKDIR*

*PART_7*

“Hafalanmu udah sampai di mana? Juz 30 udah hafal semua kan?” Tanya Amran saat dalam perjalanan menuju bandara.

“Sudah Bang, memangnya kenapa?”

“Sampai di Jakarta nanti kamu harus mulai menambah hafalan. Masuk juz 29 ya? Nanti setor sama abang melalui telepon tiap akhir pekan. Paham?”

Aduh, kenapa sih dia? Tiba-tiba kayak jadi guru tahfidzh begini?

“InsyaaAllah, Bang,” sahutku singkat.

“Selama di Jakarta jangan suka pergi sendirian, kalau pergi harus sama abangmu. Jangan keluar malam, jangan terlalu banyak interaksi dengan lawan jenis, jangan lupa...” Amran menggantung kalimatnya, “jangan lupa shalat tepat waktu.” Sepertinya bukan itu yang akan dia katakan, hanya mencoba berkilah.

Aku menatap wajahnya dari samping. Dia begitu cerewet dan banyak aturan, tapi aku tahu tujuannya baik.

“Apa abang akan merindukanku?” pertanyaan yang belum sempat terjawab semalam kembali kulontarkan.

Amran mengusap wajah dengan tangan kirinya dan menghela napas. Ia juga tak menjawab pertanyaanku kali ini.

“Bang, kenapa tidak menjawab?”

“Pertanyaanmu tidak membutuhkan jawaban dari abang, kamu sendiri nanti yang bisa menjawabnya.” Pungkasnya tanpa menoleh padaku.

“Abang menyesal menikah denganku?”

“Kenapa bertanya seperti itu lagi?”

“Karena...sampai hari ini...abang belum memperlakukanku sebagai seorang istri layaknya pasangan pengantin yang lain,” kuberanikan diri untuk mengungkapkan apa yang sedang kurasakan. “Kita menikah sudah seminggu lebih, dan hari ini abang mengizinkanku untuk kembali kuliah ke Jakarta. Seolah abang nggak keberatan kalau aku jauh dari abang,” tuturku pelan. Tenggorokanku terasa tercekat. “Apa aku...apa aku tidak menarik di matamu?”

Amran menghentikan laju mobil dan menepi di pinggir jalan. Ia menghela napas lalu beristighfar.

“Jihan, kamu dengarkan abang! Abang menikahimu karena abang memang suka denganmu. Dan yang terpenting adalah...karena Allah. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak.”

“Lalu kenapa tak pernah menyentuhku?”

“Karena belum saatnya, Jihan!” Tegasnya.

“Saat seperti apa yang abang tunggu?”

Lelaki itu menatapku tajam, “saat nama Hakim hilang dari hati dan pikiranmu.”

DEG!
Aku terperanjat.

“Abang tidak mau, saat ragamu abang dapatkan tapi jiwamu bersama orang lain.” Pungkasnya. Lalu ia menyalakan mesin mobil, dan kembali membelah jalanan. Rautnya terlihat menahan amarah, tapi hanya seketika. Setelah kudengar bibirnya selalu beristighfar.

Aku bergeming. Tidak tahu harus berkata apa untuk menimpali. Hanya ada setitik air mata yang turun membasahi pipi, tapi buru-buru kuhapus sebelum Amran melihatnya.

“Kita pulang!” Pintaku akhirnya ketika setengah perjalanan telah dilalui. Rasanya semangatku untuk kembali ke Jakarta memudar.

“Apa maksudmu? Ini sudah setengah perjalanan Jihan!” Amran tampak bingung.

“Pokoknya aku mau pulang!” Aku sedikit menekan suaraku agar tidak terdengar meninggi.

Amran menepikan mobilnya kembali. Menelan saliva yang terasa pahit baginya.

“Mau kamu apa sebenarnya Jihan? Ini sudah separo perjalanan dan kamu minta kita balik?”

Aku bergeming.

“Tiket sudah di beli, dan...”

“Pokoknya aku mau pulang!” Potongku.

Amran menatap dengan raut wajah tak mengerti dengan kemauan istrinya.

“Baiklah, kita pulang!” Pungkasnya. Lalu memutar balik arah tujuan. Kembali ke Bukittinggi.

Suasana kembali hening. Tak ada yang bicara atau pun bertanya lagi. Aku berusaha menahan desakan-desakan di sudut mata. Berusaha agar mereka tak berhasil berlarian di pipiku.

Amran menyalakan murattal dan bibirnya tak berhenti mengikuti alunan suara Misyari Rasyid itu. Membiarkanku hanyut dalam setiap huruf yang ia lantunkan.

Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba saja aku memutuskan untuk tidak ke Jakarta hari ini. Semua semangatku memudar kala nama Hakim ia sebut. Padahal aku sudah bersusah payah melupakannya dan mulai mencoba menerima keberadaan Amran.

“Maaf kalau kata-kata abang membuatmu tersinggung,” Amran menggenggam tanganku.

Aku tak menjawab. Menepis tangannya dengan pelan. Hingga lelaki itu terlihat serba salah.

“Abang tidak bermaksud...”

“Dari mana abang bisa tahu semua itu?” Tanyaku datar.

Gantian Amran yang terdiam. Ia mencoba fokus dengan kondisi jalanan di depannya yang mulai ramai.

“Kita baru menikah, tapi keadaannya sudah seperti ini,” sesalku.

Amran menghela napas, menahan sesuatu yang mungkin ia coba sembunyikan.

“Menikah hanya untuk saling menyakiti, apakah itu dibenarkan dalam syari’at? Lebih baik dulu abang tidak menikahiku jika hanya ingin membuatku seperti ini.” Air mata mulai turun perlahan membasahi pipiku.

“Jihan, Jihan jangan menangis!” Amran segitu paniknya melihat air mataku. “Abang sungguh-sungguh menyayangimu Jihan, abang tidak pernah main-main dalam menikahimu. Tapi...” ia menggantung kalimatnya. “Tapi abang tidak mau, jika kamu sudah bersama abang tapi pikiranmu pada lelaki lain.”

“Oh ya? Hebat sekali abang bisa membaca pikiranku.” Ucapku dingin.

Amran terdiam.

“Abang tahu? Betapa sulitnya aku mencoba menerima kehadiran abang dalam hidupku? Betapa sulitnya aku melupakan lelaki itu?” Tangisku benar-benar pecah. “Dan saat abang menikahiku, aku melepas semua cerita tentangnya, aku melepas semua rasa padanya. Dan aku mulai belajar mencintai abang. Tapi apa? Abang hanya menyakitiku, memperlakukanku seolah aku bukan istrimu. Memperkenalkanku kepada semua orang bahwa aku istrimu, tapi tidak pernah memperlakukanku layaknya istri. Aku hanya seperti pajangan dan sebagai bukti bahwa abang memiliki istri.”

“Jihan hentikan!” Napasnya tampak tersengal. “Astaghfirullaah...” ucapnya lirih. Amran kembali menepikan mobilnya dan mengatur napas yang naik turun. Wajahnya memerah menahan amarah. Ia beristighfar berulang kali.

Sekian detik, lalu ia menoleh padaku. Mencoba menghapus air mataku dengan sapuan jarinya yang kokoh.

“Kamu siap mendengar semua yang akan abang katakan? Berjanji kalau kamu tidak akan membenci abang?”

Aku menatap nanar padanya. “Beritahu aku walau sepahit apa pun!”

“Abang tahu apa yang terjadi diantara kamu, Hakim dan juga Madya. Hakim sudah menceritakan semuanya pada abang. Dia tahu betapa terlukanya dirimu, begitupun dia...sangat terluka. Tapi dia hanya mencoba menjalani takdir Allah, meskipun terasa berat. Karena dia sadar bahwa kamu bukan jodohnya. Hingga suatu hari dia meminta abang untuk melamarmu,”

Aku terkesiap mendengar kalimat terakhir Amran. Tapi tak berusaha menimpali.

“Dia ingin abang menikah denganmu. Awalnya abang menolak, tapi setelah dia memperlihatkan fotomu pada abang...kamu tahu?” Amran menatapku sambil tersenyum. “Abang jatuh cinta padamu.” Matanya terlihat berbinar. “Walaupun abang belum pernah berjumpa denganmu tapi entah kenapa, abang merasa kamu adalah jodoh abang. Akhirnya abang menyetujui permintaan Hakim. Lalu abang mengutarakannya pada kedua orang tua abang, lalu mereka memberitahu orang tua Hakim dan orang tua Hakim memberi tahu abimu. Dan sekarang... kamu sudah menjadi istri abang.” Pungkasnya.

“Hakim sebenarnya sangat menyayangimu, karena itulah dia ingin abang membahagiakanmu. Dia tidak ingin melihatmu terus terluka. Dia ingin kamu melupakannya dan memulai hidup baru. Begitu juga dengannya, ia berusaha keras mulai mencintai Madya.”

Aku tercekat. Tenggorokanku terasa sakit sekali. “Kalau abang memang mencintaiku, kenapa memperlakukanku seperti ini?” Tanyaku lirih.

“Karena abang ingin, kamu mulai belajar mencintai abang dulu dan menerima kehadiran abang sepenuhnya dalam hatimu. Abang rela menunggu saat itu tiba, Jihan,”

“Lalu kenapa dengan mudah membiarkanku pergi? Bukankah dengan kita saling berjauhan malah akan semakin sulit untukku menerima abang?”

“Karena abang ingin tahu, seberapa kuat kamu bisa menjauh dari abang. Dan abang juga ingin memberimu waktu untuk sendiri, agar kamu tahu betapa besarnya rasa cinta yang abang miliki untukmu.” Pungkasnya.

Aku tercenung demi mendengar semua kata-kata Amran. Hingga aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Semua terasa menyesakkan dada. Dan air mata tak lagi menetes.

Selamat sore.... Tetap SEMANGAT.💪🏽💪🏽

Komentar