*C E R B U N G* *MENENTANG_TAKDIR* *PART_11*
Tak semua kehidupan akan berjalan dengan mulus. Begitupun dengan kehidupan rumah tangga. Pasti ada saja ujian demi ujian yang akan menempa. Tak peduli apakah usia pernikahan itu masih seumur jagung atau sudah setengah abad lamanya. Hanya tinggal kita saja yang harus tahu bagaimana cara menyikapinya. +
*** *** *** *** ***
Sudah sebulan lamanya aku tinggal berdua dengan Amran. Sebuah perumahan sederhana yang terletak dekat dengan kampusnya. Umi dan abi tidak keberatan saat kami mengutarakan niat kami untuk belajar mandiri. Hanya saja setiap akhir pekan, orang tuaku meminta agar kami menginap di rumah mereka.
Seperti Sabtu sore ini, ketika kami berdua hendak berangkat ke rumah abi, tiba-tiba saja ada tamu yang datang tanpa diduga. Ustaadz Zainal. Beliau ingin bertemu Amran katanya dan ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Hingga kami menunda untuk berangkat.
Setelah menyajikan minuman hangat dan sedikit cemilan, aku pun memilih untuk duduk di ruang sebelah, tepatnya di ruang keluarga tempat kami berdua biasa menonton televisi. Tapi suara mereka cukup jelas terdengar dari sini. Sehingga aku bisa mendengar tanpa perlu hadir diantara mereka.
“Maaf, Amran. Jika kedatangan saya mengganggu acaramu dan istri,” ujarnya sungkan.
“Ah, tidak sama sekali ustaadz, kami hanya mau nginap di rumah orang tua Jihan kok. Dan kebetulan rumah beliau dekat saja, masih di dalam kota,” sahut Amran.
“Ooh, begitu...,” ucapnya.
Sejenak suasana menjadi hening. Hanya bunyi detik jam di dinding yang terdengar.
“Amran...,” Ustaadz Zainal memecah keheningan. “Saya tahu kalau ini adalah untuk yang kesekian kalinya saya meminta kepadamu, walaupun saya tahu mungkin jawabanmu masih sama seperti kemarin-kemarin. Tapi demi Zainab, saya tidak akan pernah merasa lelah, saya akan terus mencoba untuk mengetuk hatimu, agar mau menerima Zainab. Meskipun putri saya harus jadi istri kedua,”
‘Apa? Zainab ingin menjadi istri kedua Amran? Ternyata benarkan apa yang aku kira selama ini, kalau Zainab ada maksud tertentu dengan suamiku.’ Tiba-tiba dadaku terasa sesak, menahan sebuah amarah yang bersarang di dada. Kucoba beristighfar berulang kali. Toh aku belum mendengar jawaban Amran kan?
“Maaf ustaadz, seperti jawaban saya kemarin, saya belum mampu untuk berpoligami. Apalagi saya sangat mencintai istri saya, rasanya kalau saya menduakan dia, sungguh tidak adil untuknya,” jawab Amran lugas.
“Tapi Zainab juga sangat mencintaimu Amran, bahkan sampai sekarang dia masih menunggumu,”
“Sekali lagi saya mohon maaf ustaadz, saya tidak bisa,”
“Apa syarat yang harus saya penuhi agar kamu mau menerima Zainab?” Sepertinya beliau belum juga menyerah.
Amran menghela napas, ia bingung bagaimana menghadapi lelaki di hadapannya yang terkesan memaksakan kehendak.
“Saya tidak akan mengajukan syarat apa-apa ustaadz, karena memang saya tidak bisa menerima Zainab. Saya sudah memiliki Jihan, dan itu sudah cukup untuk saya!”
“Walau saya memohon kamu tetap menolak?” Mata beliau berkabut. Suaranya juga terdengar lirih. “Saya tidak sanggup melihat Zainab yang terlalu mencintaimu. Tahukah kamu waktu Zainab mendengar berita pernikahanmu dia hampir saja nekat bunuh diri?”
Mata Amran membesar. “Bunuh diri?”
“Iya, bahkan saya hampir saja kehilangan anak saya satu-satunya itu. Saya hanya ingin melihat anak saya bahagia. Dan satu-satunya kebahagiaannya adalah kamu Amran,”
Amran tercekat. Ia jadi merasa serba salah.
Kenapa beliau seperti memaksa Amran? Bukankah Amran sudah jelas-jelas menolak?
“Jadi sekali lagi, saya mohon, pikirkan sekali lagi Amran! Saya mohon!”
“Ustaadz jangan memohon begitu. Saya bukan siapa-siapa, masih banyak lelaki shalih yang lebih pantas mendampingi Zainab ketimbang saya. Atau kalau perlu nanti saya akan ta’arufkan dengan rekan saya,”
Beliau menggeleng sedih. “Zainab hanya mau menikah denganmu, katanya kalau bukan denganmu dia tidak akan menikah seumur hidup.” Pungkasnya.
Amran terdiam. Lama sekali. Hingga akhirnya Ustaadz Zainal pamit undur diri. Tapi ia masih sempat berkata sesuatu sebelum meninggalkan rumah kami.
“Tolong pikirkan sekali lagi Amran, saya akan selalu menunggu kabar baik darimu,”
“InsyaaAllah ustaadz,” hanya jawaban itu yang kudengar dari bibir Amran.
“InsyaaAllah?” Aku langsung keluar dan menemui Amran setelah memastikan ustaadz Zainal pergi. Lelaki itu tampak terkejut. Mungkin ia tak menyangka kalau sedari tadi aku mendengar percakapan mereka. Sebab dia pikir aku tadi di kamar, seperti kebiasaanku saat dia ada tamu.
“Kalau jawaban abang InsyaaAllah, berarti ada kemungkinan abang mau menerima perempuan itu kan?”
“Jihan kamu salah paham. Bukan begitu maksud abang, abang hanya nggak tahu harus jawab apa. Ustaadz Zainal cenderung memaksa, abang bingung,”
“Tapi sebenarnya abang juga senangkan? Punya fans sejati seorang wanita cantik seperti Zainab?” Tuduhku sambil tersenyum sinis.
“Jihan, sudahlah! Jangan memperkeruh suasana. Seharusnya kamu bantu abang untuk keluar dari dilema ini, bukan malah sebaliknya!” Amran sedikit emosi.
“Kenapa harus merasa dilema? Nikahi saja dia! Gampang kan? Dan masalah selesai. Bukankah abang sebenarnya juga menyukai dia?”
“Astaghfirullaah, Jihan! Bukankah abang sudah pernah bilang kalau abang sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu. Kalau memang abang suka sama dia, sudah dari dulu abang menikahinya. Dan bukan kamu yang ada di sini sekarang! Paham?” Suara Amran meninggi. Tampaknya ia mulai emosi. Entah karena kata-kataku entah karena sedang merasa tertekan akibat permintaan Ustaadz Zainal yang cenderung memaksa.
Napasnya tampak tersengal. Begitu pun denganku. Emosi sedang menguasai kami berdua.
Menyambar kunci motor di atas meja, lalu aku bergegas keluar dari rumah.
“Jihan, kamu mau kemana? Jihan, tunggu!”
Tak kupedulikan teriakan Amran. Dan terus melaju dengan motor matic-ku.
Aku tahu ini salah, meninggalkan rumah tanpa izin suami. Tapi aku harus apa? Amran bilang tidak mau menduakanku, dia belum siap untuk poligami, tapi kenapa dia seolah memberi harapan pada perempuan itu ketika Ustaadz Zainal memaksa? Ah, laki-laki memang suka begitu, munafik!
*B E R S A M B U N G*
Sruput kopinya☕
Tak semua kehidupan akan berjalan dengan mulus. Begitupun dengan kehidupan rumah tangga. Pasti ada saja ujian demi ujian yang akan menempa. Tak peduli apakah usia pernikahan itu masih seumur jagung atau sudah setengah abad lamanya. Hanya tinggal kita saja yang harus tahu bagaimana cara menyikapinya. +
*** *** *** *** ***
Sudah sebulan lamanya aku tinggal berdua dengan Amran. Sebuah perumahan sederhana yang terletak dekat dengan kampusnya. Umi dan abi tidak keberatan saat kami mengutarakan niat kami untuk belajar mandiri. Hanya saja setiap akhir pekan, orang tuaku meminta agar kami menginap di rumah mereka.
Seperti Sabtu sore ini, ketika kami berdua hendak berangkat ke rumah abi, tiba-tiba saja ada tamu yang datang tanpa diduga. Ustaadz Zainal. Beliau ingin bertemu Amran katanya dan ada hal penting yang ingin ia sampaikan. Hingga kami menunda untuk berangkat.
Setelah menyajikan minuman hangat dan sedikit cemilan, aku pun memilih untuk duduk di ruang sebelah, tepatnya di ruang keluarga tempat kami berdua biasa menonton televisi. Tapi suara mereka cukup jelas terdengar dari sini. Sehingga aku bisa mendengar tanpa perlu hadir diantara mereka.
“Maaf, Amran. Jika kedatangan saya mengganggu acaramu dan istri,” ujarnya sungkan.
“Ah, tidak sama sekali ustaadz, kami hanya mau nginap di rumah orang tua Jihan kok. Dan kebetulan rumah beliau dekat saja, masih di dalam kota,” sahut Amran.
“Ooh, begitu...,” ucapnya.
Sejenak suasana menjadi hening. Hanya bunyi detik jam di dinding yang terdengar.
“Amran...,” Ustaadz Zainal memecah keheningan. “Saya tahu kalau ini adalah untuk yang kesekian kalinya saya meminta kepadamu, walaupun saya tahu mungkin jawabanmu masih sama seperti kemarin-kemarin. Tapi demi Zainab, saya tidak akan pernah merasa lelah, saya akan terus mencoba untuk mengetuk hatimu, agar mau menerima Zainab. Meskipun putri saya harus jadi istri kedua,”
‘Apa? Zainab ingin menjadi istri kedua Amran? Ternyata benarkan apa yang aku kira selama ini, kalau Zainab ada maksud tertentu dengan suamiku.’ Tiba-tiba dadaku terasa sesak, menahan sebuah amarah yang bersarang di dada. Kucoba beristighfar berulang kali. Toh aku belum mendengar jawaban Amran kan?
“Maaf ustaadz, seperti jawaban saya kemarin, saya belum mampu untuk berpoligami. Apalagi saya sangat mencintai istri saya, rasanya kalau saya menduakan dia, sungguh tidak adil untuknya,” jawab Amran lugas.
“Tapi Zainab juga sangat mencintaimu Amran, bahkan sampai sekarang dia masih menunggumu,”
“Sekali lagi saya mohon maaf ustaadz, saya tidak bisa,”
“Apa syarat yang harus saya penuhi agar kamu mau menerima Zainab?” Sepertinya beliau belum juga menyerah.
Amran menghela napas, ia bingung bagaimana menghadapi lelaki di hadapannya yang terkesan memaksakan kehendak.
“Saya tidak akan mengajukan syarat apa-apa ustaadz, karena memang saya tidak bisa menerima Zainab. Saya sudah memiliki Jihan, dan itu sudah cukup untuk saya!”
“Walau saya memohon kamu tetap menolak?” Mata beliau berkabut. Suaranya juga terdengar lirih. “Saya tidak sanggup melihat Zainab yang terlalu mencintaimu. Tahukah kamu waktu Zainab mendengar berita pernikahanmu dia hampir saja nekat bunuh diri?”
Mata Amran membesar. “Bunuh diri?”
“Iya, bahkan saya hampir saja kehilangan anak saya satu-satunya itu. Saya hanya ingin melihat anak saya bahagia. Dan satu-satunya kebahagiaannya adalah kamu Amran,”
Amran tercekat. Ia jadi merasa serba salah.
Kenapa beliau seperti memaksa Amran? Bukankah Amran sudah jelas-jelas menolak?
“Jadi sekali lagi, saya mohon, pikirkan sekali lagi Amran! Saya mohon!”
“Ustaadz jangan memohon begitu. Saya bukan siapa-siapa, masih banyak lelaki shalih yang lebih pantas mendampingi Zainab ketimbang saya. Atau kalau perlu nanti saya akan ta’arufkan dengan rekan saya,”
Beliau menggeleng sedih. “Zainab hanya mau menikah denganmu, katanya kalau bukan denganmu dia tidak akan menikah seumur hidup.” Pungkasnya.
Amran terdiam. Lama sekali. Hingga akhirnya Ustaadz Zainal pamit undur diri. Tapi ia masih sempat berkata sesuatu sebelum meninggalkan rumah kami.
“Tolong pikirkan sekali lagi Amran, saya akan selalu menunggu kabar baik darimu,”
“InsyaaAllah ustaadz,” hanya jawaban itu yang kudengar dari bibir Amran.
“InsyaaAllah?” Aku langsung keluar dan menemui Amran setelah memastikan ustaadz Zainal pergi. Lelaki itu tampak terkejut. Mungkin ia tak menyangka kalau sedari tadi aku mendengar percakapan mereka. Sebab dia pikir aku tadi di kamar, seperti kebiasaanku saat dia ada tamu.
“Kalau jawaban abang InsyaaAllah, berarti ada kemungkinan abang mau menerima perempuan itu kan?”
“Jihan kamu salah paham. Bukan begitu maksud abang, abang hanya nggak tahu harus jawab apa. Ustaadz Zainal cenderung memaksa, abang bingung,”
“Tapi sebenarnya abang juga senangkan? Punya fans sejati seorang wanita cantik seperti Zainab?” Tuduhku sambil tersenyum sinis.
“Jihan, sudahlah! Jangan memperkeruh suasana. Seharusnya kamu bantu abang untuk keluar dari dilema ini, bukan malah sebaliknya!” Amran sedikit emosi.
“Kenapa harus merasa dilema? Nikahi saja dia! Gampang kan? Dan masalah selesai. Bukankah abang sebenarnya juga menyukai dia?”
“Astaghfirullaah, Jihan! Bukankah abang sudah pernah bilang kalau abang sama sekali tidak tertarik dengan wanita itu. Kalau memang abang suka sama dia, sudah dari dulu abang menikahinya. Dan bukan kamu yang ada di sini sekarang! Paham?” Suara Amran meninggi. Tampaknya ia mulai emosi. Entah karena kata-kataku entah karena sedang merasa tertekan akibat permintaan Ustaadz Zainal yang cenderung memaksa.
Napasnya tampak tersengal. Begitu pun denganku. Emosi sedang menguasai kami berdua.
Menyambar kunci motor di atas meja, lalu aku bergegas keluar dari rumah.
“Jihan, kamu mau kemana? Jihan, tunggu!”
Tak kupedulikan teriakan Amran. Dan terus melaju dengan motor matic-ku.
Aku tahu ini salah, meninggalkan rumah tanpa izin suami. Tapi aku harus apa? Amran bilang tidak mau menduakanku, dia belum siap untuk poligami, tapi kenapa dia seolah memberi harapan pada perempuan itu ketika Ustaadz Zainal memaksa? Ah, laki-laki memang suka begitu, munafik!
*B E R S A M B U N G*
Sruput kopinya☕

Komentar
Posting Komentar